Identifikasi Rumah Adat Belitong

Mengacu pada latar belakang tersebut diatas, rumah seringkali dijadikan media atau symbol atau identitas yang berkembang di dalam masyarakat. Sebagaimana perkembangan sebuah wilayah menjadi sebuah perkampungan mulai dari terbentuknya kubok, kelekak hingga kampong. Dari sini berkembang pengertian rumah adat, khas ataupun tradisional. Dengan demikian membangun sebuah rumah dalam rangka menggiring identitas dan revitalisasi budaya seringkali menimbulkan silang pendapat. Perbedaan tersebut tidak lain karena ketiga pengertian tersebut sangat dipengaruhi oleh cara pandang suatu masyarakat terhadap rumah itu sendiri.

Bapak Sjachroelsiman menyatakan bahwa rumah adat mencerminkan bagaimana adat masyarakat Belitong membangun rumah atau ingin membangun sebuah rumah adat. Karena mewujudkan rumah sebagai rumah adat tanpa memperhatikan kaidah-kaidah yang berlaku di masyarakat Belitong dikhawatirkan akan merusak nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, terutama dalam pemilihan material dan adanya unsur moderen (semen) dalam rumah adat itu sendiri yang mengundang keingintahuan sejauh mana komoditas modern menjadi bagian dalam pembangunan rumah adat di Belitong.
Analisis yang dilakukan dalam Sarasehan Desain Rumah Adat Belitong yang berlangsung dari tanggal 5-6 Oktober 2006  di Tanjungpandan,meliputi :
a. Tipe rumah masyarakat Belitong
b. Pola hubungan antar ruang dan Fungsi Ruang
c. Desain / Arsitektur Rumah Adat Belitong
d. Utilitas / Kegunaan
 
1. Tipe rumah masyarakat Belitong
Langgam arsitektual rumah tradisional Belitong yang ada, umumnya dikenal hanya sebagai rumah panggung. Kenyataannya, hal tersebut tidak sepenuhnya benar. Selain rumah panggung, dikenal juga rumah tipe Toko Limas dan rumah Toko Gudang. Kedua tipe rumah tersebut dapat dijumpai di Pulau Seliu (Siswanto, dkk, 1998) atau dapat diklasifikasikan sebagai rumah pesisir. Dikarenakan taraf hidup masyarakat pesisir lebih maju dibandingkan dengan masyarakat pedalaman, kualitas dan bentuk rumah masyarakat pedalaman dipengaruhi oleh unsur-unsur metafisik. Meskipun pemilihan bentuk atap menjadi pembeda bentuk rumah, namun tidak terlalu menjadi tuntutan dalam arsitektur tradisional Belitong sebagaimana yang terdapat di Jawa, sampai perlu dilakukan selamatan khusus untuk itu.
 
Bagi masyarakat Belitong yang penting justru pembangunan pondasi (peletakan umpak) rumah. Oleh karena itu sebelum membangun pondasi rumah perlu meminta “kesalan” atau air keselamatan yang diperoleh dari Dukun Kampong, yakni air yang dicampur sejumlah potongan daun neruse dan daun ati-ati.
 
Sementara tipe rumah lainnya diklasifikasikan sebagai tipe rumah vernacular, dapat dijumpai di seluruh wilayah kecamatan. Beberapa rumah tipe ini mempunyai dinding dari kulit kayu dengan atap daun dan bentuk rumah panggung dimana ketinggian dapat disesuaikan dengan manfaat bagi penghuni rumah.
Bahkan istilah rumah bagi masyarakat perkampungan lebih beragam dibandingkan dengan istilah rumah bagi masyarakat pesisir. Menurut Sjahroelsiman, istilah rumah yang dikenal masyarakat kampong meliputi serunggak (serunggak nangak dan serungak ngaong), membarongan hingga belandongan. Istilah tersebut terkait erat dengan perkembangan wilayah pemukiman masyarakat mulai dari pembentukan kubok, ume, hingga perkampungan.
Tipe rumah yang lain yang terdapat di Pulau Belitong diklasifikasikan sebagai rumah kolonial digolongkan dengan arsitektural indies. Arsitektur ini memasukkan gara arsitektural Eropa kedalam tipe rumah tropis. Rumah tipe ini banyak terdapat di kompleks eks timah yang ditujukan bagi karyawan perusahaan penambangan timah. Tipe rumah cina yang terdapat di pusat pertumbuhan ekonomi. Sebagai contoh adalah rumah kapiten Cina Ho A Djun yang menjadi hoofkantoor atau kantor pusat perusahaan pertambangan (sekarang Gedung Barata Department Store). Dimana dibagian depannya terdapat dua pasang patung naga.
 
2. Pola Hubungan Antar Ruang dan fungsi Ruang
Dasar pertimbangan untuk menentukan luas ruang rumah adat Belitong baik yang memanjang ke belakang maupun yang melebar ke samping adalah daya tamping ketika berlangsungnya upacara. Jika ada yang pindah ke sebuah kampong maka di adatkan supaya orang yang baru dating berpindah atau membuat rumah baru tersebut memberitahu Dukun Kampong. Hal ini membuktikan bahwa masyarakat sangat adaptif (menyesuaikan diri dengan lingkungan baru) dan lebih terbuka.
 
Rumah Adat
1. Rumah Adat Belitong disebut Rumah Panggong
2. Rumah Panggong berdasarkan luasan lahan dibedakan menjadi 2 (dua) jenis yaitu :
    a. Rumah Panggong melebar ke samping
    b. Rumah Panggong memanjang ke belakang.
3. Contoh Rumah Panggong melebar kesamping serta denah dan potongannya dapat dilihat pada gambar di bawah ini. Denah ini terdapat dalam perda Kabupaten Belitung tentang rumah adat.
 
 
 
 
       
Pola hubungan antar ruang dapat digambarkan melalui denah ruangan yang terdiri dari :
- Suyok/Teras, merupakan rauangan transisi sebelum masuk kedalam raung luar (ruang public). Suyok terdiri dari dua bentuk, bentuk pertama berada diatas anak tangga dan disisi kiri dan kanannya terdapat dinding berjendela, sedang suyok kedua menutup anak tangga dimana disisi kiri dan kanannya dibatasi oleh dinding bersemen.
- Ruang Luar, merupakan ruang tamu. Ruang tamu ini disertai kursi yang memungkinkan tuan rumah dan tamu bebas berbincang-bincang, secara etika ruang tamu tidak bias digunakan untuk pembicaraan khusus (semi publik).
- Ruang Tengah, merupakan bagian inti dari rumah yang berfungsi sebagai ruang keluarga atau tempat membicarakan hal-hal khusus (ruang private) yang berfungsi sebagai rumah. Pada malam hari ruang tengah ini juga digunakan untuk kegiatan pengajian. Tak jarang ruang tengah terdapat tanduk rusa / kepala kijang untuk meletakkan sungkok (peci) yang terbuat dari tanaman resam dibagian lain terdapat tumpulahan liharan. Kamar Penganten, merupakan bagian ruang tengah tanpa pintu yang digunakan untuk tempat pelaminan, ruang ini hanya berisi sebuah ranjang (tempat tidur). Bagian lain dari ruang tengah adalah Bilik, merupakan ruang tidur dengan dinding atau sekat permanen maupun sekat tirai.
- Los, merupakan teras samping yang berfungsi sebagai ruang penghubung antar dapur dan ruang tengah sekaligus memberikan kenyamanan ruang tengah jika muncul asapa dari raung dapur. Hal ini menunjukkan pembagian ruang bukan saja memperhatikan fungsi dan manfaat tetapi juga memperhatikan aspek kesehatan dan kenyamanan.
- Dapur dan Ruang Makan (ruang service), ruang dapur selain untuk tempat memasak, juga dipergunakan sebagai tempat menerima tamu kaum ibu dan tempat makan keluarga dengan membentangkan tikar (berage).
- Beruman, merupakan kolong rumah biasanya dipergunakan untuk menyimpan kayu bakar, untuk kandang ayam, tempat bertandang dan lain-lain. Dalam masyarakat Belitong sudah menjadi larangan untuk tidak menyimpan bahan bangunan di beruman, konon hal ini akan mengakibatkan rumah sulit berdiri. Namun secara logika hal ini dimungkinkan karena bahan bangunan terutama dari kayu akan rusak dimakan rayap. Pada masyarakat pedalaman beruman sering digunakan untuk pengasapan dengan membakar tanaman tertentu (bio replent) seperti serai wangi untuk gigitan nyamuk.
 
 
Gunung Pinang
Kelengkapan memakan sirih adalah salah satunya adalah buah pinang, dari nama buah pinang ini pulalah lahir istilah “Meminang” . Tumpukan buah pinang yang disusun sedemikian rupa berbentuk gunung sehingga disebut Gunung Pinang.
 
Kembang Sirih
Kebiasaan memakan sirih dalam masyarakat melayu umumnya menjadikan kegiatan ini sebagai makanan budaya yang memiliki nilai-nilai persaudaraan Gunung sirih adalah symbol dari rasa penghormatan pihak mempelai laki-laki ketika hendak melamar sang calon mempelai wanita. 
 
Gunung Kapur
Seperti halnya Gunung Pinang dalam acara makan sirih yang tak boleh ketinggalan adalah unsur kapur sebab itu ketiga jenis unsur dalam memakan sirih adalah satu kesatuan yang juga di rangkai dan dibentuk seperti gunung.
 
Bunga Nasi Kembang Telur
Kebanggaan orang tua terhadap anak gadisnya yang taat pada perintah orangtuanya serta selesai membaca Al Qur’an biasanya diwujudkan dengan memberikan Nasi Ketan Kuning dan ayam panggang bagi anaknya yang telah hatam membaca Al Qur’an. Rasa bersyukur ini biasanya dilaksanakan sebelum anak gadisnya duduk bersanding dan nasi kuning ini dihiaskan dengan telur dengan sedemikian rupa disebut “BUNGA NASIK” Kembang telur atau bunga nasik ini akan dibagikan untuk anak-anak dengan mengharap keberkahan dan anak-anak lainnya juga dapat menghatamkan Al Qur’an.
 
Pahar
Dulang atau wadah untuk menjamu hidangan yang terbuat dari tembaga/kuningan berkaki digunakan pada waktu dan kegiatan tertentu seperti tempat menyajikan makanan khusus untuk calon mempelai laki-laki, pahar ini dapat juga untuk meletakkan kembang telur, dan lainnya sebagai kehormatan kepada para tamu. 
 
Tipak 
Adalah piranti memakan sirih dengan perlengkapannya menrupakan symbol kehormatan dan persaudaraan. Tipak biasanya dipakai berbagi upacara pengantin dan penyambutan tamu kehormatan.
 
Buah Butun
Untaian kain satin yang dirangkai membentuk bunga dan buah (buah menyerupai buah butun sejenis buah dari pohon pandan laut) untaian ini digantungkan mengelilingi ranjang pengantin dengan berbagai warna dengan jumlah antara tujuh dan sembilan  untaian buah butun ini jika diurai akan berfungsi sebagai tirai penutup ranjang pengantin.
 
Tanduk Rusa
Merupakan hiasan yang dapat juga berfungsi sebagai tempat menggantungkan topi atau kopiah.
 
More in this category: « Dul Mulok Lesong Panjang »